Doa pasangan suami istri ini terkabul, Nan Sindak akhirnya hamil anak kembar.
Hingga akhirnya dilahirkan bayi kembar ini yang berjenis kelami laki - laki dan perempuan.
Anak laki - lakinya di beri nama Aji Donda Hatahutan Situan Parbaring dan anak perempuannya bernama Tapi Nauasan SIboru Panaluan.
Setelah anak kembar mereka lahir dengan berbeda jenis kelamin, para tetua memperingatkan mereka agar anak kembar ini dipisah agar tidak terjadi bencana yang tidak diinginkan.
Namun pasangan suami istri ini tampaknya mengabaikan peringatan para tetua dan membesarkan anak kembar mereka hingga dewasa dengan penuh kasih sayang.
Kini Aji Dondan Hatahutan Situan Parbaring dan Tapi Nauasan Siboru Panalua telah tumbuh dewasa, namun para tetangganya melihat kedekatan dua anak kembar ini bukan seperti kakak adik melain kan seperti sepasang kekasih.
Hingga sebuah bencana musim kemarau berkepanjangan dan membuat semua sumber mata air mengering dan banyak petani gagal panen di desa tempat anak kembar tersebut tinggal.
Hingga tetua kampung tempat anak kembar ini tingga memcoba memanggil datu dan hasilnya datu mengatakan bencana ini terjadi karena adanya hubungan terlarang yang terjalin antara saudara kandung di kampung tersebut.
Melihat hal tersebut para tetua langsung memanggil Aji Dondan Hatahutan Situan Parbaring dan Tapi Nauasan Siboru Panaluan.
Saat ditanya anak kembar tersebut hanya diam dan takut. Sementara kedua orang tua mereka pun hanya pasrah dan tidak bisa berbuat apa - apa.
Hingga akhirnya anak kembar tersebut tidak tinggal di kampung tersebut, namun Guru Hatia membangun sopo atau mirip seperti lumbung padi di hutan untuk tempat tinggal anak mereka.
Guru Hatia juga sering mengantarkan makanan untuk anak - anaknya, setelah anak kembar tersebut tidak tinggal dikampung, bencana di kampung akhirnya hilang.